hukum gestalt dalam desain

bagaimana otak kita menyambungkan titik-titik yang terpisah

hukum gestalt dalam desain
I

Pernahkah kita menatap langit lalu tiba-tiba melihat formasi awan yang persis seperti wajah manusia? Atau mungkin kita pernah sadar kalau stopkontak di dinding seolah sedang menatap kita dengan ekspresi kaget? Saya yakin teman-teman pasti pernah mengalaminya. Otak kita sepertinya memang tidak tahan melihat sesuatu yang acak. Ia selalu gatal ingin merangkai hal-hal yang berantakan menjadi sebuah cerita yang bisa dipahami. Ini jelas bukan kebetulan semata. Ada sebuah mesin biologis rahasia di dalam kepala kita yang bekerja tanpa henti. Sebuah mekanisme penyesuaian yang diam-diam mengatur bagaimana kita merespons tata letak aplikasi favorit kita, hingga cara kita melihat dunia.

II

Mari kita putar waktu sejenak ke awal abad ke-20. Sekelompok psikolog di Jerman mulai mengamati kebiasaan unik dari persepsi manusia ini. Tokoh-tokoh seperti Max Wertheimer, Kurt Koffka, dan Wolfgang Köhler menyadari satu hal yang sangat fundamental. Saat melihat sesuatu, kita ternyata tidak memproses dunia sebagai kumpulan piksel atau titik yang terpisah-pisah. Kita langsung melihatnya sebagai satu kesatuan yang utuh. Dari pengamatan inilah lahir sebuah konsep yang kelak mengubah dunia psikologi dan desain selamanya. Konsep itu bernama Gestalt. Dalam bahasa Jerman, istilah ini secara kasar bisa diterjemahkan sebagai "bentuk" atau "keseluruhan". Ide dasarnya sangat sederhana namun mendalam. Keseluruhan dari sesuatu itu berbeda, dan bahkan memiliki makna yang lebih besar, daripada sekadar jumlah bagian-bagiannya. Tapi, tunggu dulu.

III

Pertanyaannya, bagaimana persisnya otak kita melakukan sulap kognitif ini? Mengapa kita bisa melihat bentuk yang sebenarnya tidak pernah ada? Coba teman-teman bayangkan logo organisasi lingkungan WWF. Gambar panda itu sebenarnya tidak pernah digambar utuh. Hanya ada bercak-bercak hitam untuk telinga, mata, tangan, dan kaki. Bagian kepala dan punggungnya tidak memiliki garis luar sama sekali. Area itu hanya warna putih yang menyatu dengan latar belakang. Tapi ajaibnya, kita semua sepakat melihat seekor panda gemuk di sana. Atau coba ingat logo jasa pengiriman FedEx. Di ruang kosong antara huruf kapital E dan huruf x, ada bentuk panah putih yang tersembunyi. Sekali kita menyadari keberadaan panah itu, kita tidak akan pernah bisa berhenti melihatnya. Kok bisa kita memproses sesuatu yang secara fisik tidak digambar oleh desainernya? Apakah otak kita sedang berhalusinasi ringan? Ataukah ada rahasia evolusi di balik kecenderungan kita menebak-nebak kekosongan tersebut?

IV

Di titik inilah sains memberikan jawaban yang sangat memukau. Fenomena ini bermuara pada dua hal: kelangsungan hidup dan efisiensi energi kalori. Otak kita ini sebenarnya sangat malas, namun dengan cara yang brilian. Memproses setiap detail informasi visual secara terpisah akan membuat otak overheating dan kehabisan tenaga. Jadi, otak menciptakan jalan pintas kognitif atau heuristik. Jalan pintas ini kemudian dirumuskan menjadi hukum-hukum Gestalt. Apa yang kita alami saat melihat logo WWF tadi disebut hukum penutupan atau closure. Saat ada informasi visual yang terputus, otak otomatis menjahit celah kosong itu menggunakan memori dan pola yang sudah kita hafal. Lalu ada juga hukum kedekatan atau proximity. Kita akan selalu menganggap objek-objek yang posisinya berdekatan sebagai satu kelompok atau keluarga.

Ratusan ribu tahun yang lalu, kemampuan menyambungkan titik-titik samar ini sangat krusial bagi nenek moyang kita. Bayangkan mereka sedang berburu di padang sabana. Mereka harus bisa langsung mengenali siluet samar seekor macan tutul di balik ilalang yang bergoyang. Menunggu sampai seluruh tubuh macan itu terlihat jelas 100% bukanlah strategi bertahan hidup yang cerdas. Jadi, sistem saraf kita berevolusi untuk cepat menebak gambaran besar dari petunjuk yang sangat minim. Para desainer modern sangat memahami hard science ini. Mereka merancang user interface di ponsel kita atau menyusun baliho jalanan dengan memanipulasi insting purba kita tersebut, menuntun arah mata kita tanpa kita sadari.

V

Memahami psikologi Gestalt membuat saya merenungkan satu hal yang cukup melegakan. Ternyata, kita secara biologis memang terprogram untuk mencari makna dan keteraturan di tengah kekacauan. Baik itu saat kita mencerna desain visual sebuah website, maupun saat kita mencoba memahami berbagai kejadian acak yang menimpa hidup kita. Terkadang dunia di sekitar kita terasa terpecah belah, berantakan, dan membingungkan. Informasi yang kita terima sering kali hanya sepotong-sepotong. Namun, sama seperti mata kita yang sanggup melukis garis tak kasat mata pada sebuah logo, pikiran kita juga punya kapasitas luar biasa untuk menemukan keutuhan cerita. Kita tidak selalu butuh segalanya sempurna dan utuh sejak awal. Otak kita akan selalu berusaha keras membantu kita melengkapi gambaran besarnya. Dan bagi saya, kemampuan bertahan hidup yang diam-diam kita bawa ini terasa sangat puitis.